"Dokter Zhang, bagaimana kabar Channa Satu saat ini? Apakah ada informasi terbaru tentang kondisinya?" tanya Kanaya sembari matanya fokus menatap layar monitor yang menampilkan berbagai macam grafik dan salah satunya terlihat seperti grafik di alat pemantau pasien di rumah sakit. Tanda-tanda vital seseorang terpampang jelas di layar, namun Kanaya belum bisa memahami arti tanda-tanda tersebut.

Dokter Zhang menggeleng pelan sambil berkata, "Aku rasa alat komunikasi yang dia gunakan sedang mengalami gangguan. Dia tak akan berani melawan perintah, dan wajib selalu melapor setiap saat."

Kanaya menyipitkan matanya penuh curiga dan menatap serius wajah dokter Zhang, "Apa mungkin ada sesuatu yang buruk terjadi padanya?"

Dokter Zhang segera menekan beberapa tombol pada panel mesin di sebelahnya, lalu memperbesar tampilan berbagai grafik tanda vital di layar yang jauh lebih besar. "Ini adalah grafik tanda vital Channa Satu. Kondisinya terluka cukup parah. Meski tubuhnya kini memiliki kekuatan luar biasa, sekuat baja, bisa terbang dan bergerak lebih cepat dari suara, dia tidak memiliki kemampuan regenerasi seperti pemuda bernama Lynx itu."

Dokter Zhang kembali menekan tombol lain hingga beberapa area pada gambar tubuh di monitor berubah menjadi merah menyala, "Dia menerima serangan berat beberapa waktu lalu dan hingga kini kondisinya belum membaik. Kemungkinan besar dia sudah berhasil melarikan diri dari pengejaran."

Kanaya menghembuskan napas pelan dan berkata dengan nada datar tanpa sedikitpun rasa cemas, "Dia hanyalah objek percobaan pertama dari manusia super buatan kita. Kalau bukan karena ujicoba itu, dia pasti sudah terkena hukuman mati. Aku masih bisa mencari orang lain untuk menggantikannya dan menghipnotis mereka semua agar tetap tunduk pada perintah kita."

Dokter Zhang terdiam lama, tidak setuju dengan sikap Kanaya. Baginya, Channa Satu adalah bahan penelitian yang sangat berharga. Pil super yang diciptakannya pun dibuat dari bahan yang sangat langka dan terbatas, mereka tidak bisa begitu saja kehilangan subjek penelitian yang penting ini.

Sementara itu, udara di dalam hutan tiba-tiba bergetar oleh derap langkah berat. Channa Satu berlari menerobos rimbunnya pepohonan raksasa, napasnya tersengal-sengal, dada naik turun seperti pompa yang hampir rusak. Setiap kali kakinya menapak di tanah, akar-akar pohon retak dan tanah terbelah, sementara dedaunan kering beterbangan seperti kawanan burung yang terkejut.

"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku harus menemukan cara menghubungi pusat komando supaya bisa diarahkan kembali," batin Channa Satu penuh kecemasan.

Pengaruh hipnotis yang diberikan Kanaya sangat kuat, mentalnya sangat rapuh, dan rasa pasrah menghadapi hukuman kematian membuat efek hipnotis itu bekerja berkali lipat. Salah satu perintah yang selalu terpatri di benaknya adalah wajib melapor dan mematuhi instruksi tanpa penolakan sedikit pun. Kini dalam kepalanya hanya ada keinginan untuk melapor, tetapi dia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya. Ditambah lagi, musuh-musuhnya masih terus mengejarnya tanpa henti.

Dalam kebingungan yang memuncak, dia memutuskan untuk bersembunyi di balik sebuah pohon besar dan menunggu sampai para pengejarnya pergi, namun tiba-tiba...

Swasshh…

Angin berdesir kencang di telinganya. Suara tawa licin dan penuh ejekan menyelinap di antara ranting-ranting pepohonan.

“Hahaha… bersembunyi di balik pohon? Lucu sekali! Apa dia pikir dengan cara begitu bisa lolos dari kami?” ejek seorang Master Foundation dengan suara sinis dan penuh kebencian. Setelah kehilangan jejak, ia menggunakan persepsi spiritualnya untuk memeriksa sekitar dan berhasil menemukan seseorang yang bersembunyi di balik pohon dekat situ.

“Kita bunuh dia sekarang juga! Dia harus membayar darah dengan darah!” teriak yang lain dengan suara penuh dendam dan niat membunuh.

Salah satu dari tujuh Master Foundation yang mengejar Channa Satu mengayunkan pedangnya dengan ganas ke arah batang pohon. Tebasan energi qi yang sangat kuat menghantam pohon tersebut dan terus menembus ke arah sosok yang bersembunyi di belakangnya.

Menyadari bahaya yang mengancam, Channa Satu melompat tinggi menghindar, tetapi segera saja seorang kultivator lain bergerak cepat dan menendang tubuhnya hingga terhempas ke tanah dengan keras.

"Kita memang harus mengorbankan banyak orang, tapi bagi yang sudah membunuh rekan kami, mereka pantas mati," kata seorang kultivator dengan suara dingin dan penuh kebencian. Pedang bercahaya merah yang dipenuhi energi qi sangat kuat itu diayunkan mengarah ke tubuh Channa Satu. Jika serangan itu mengenai, tubuhnya akan terbelah dua.

Channa Satu menggertakkan giginya keras dan menyalurkan seluruh sisa tenaga ke otot-ototnya. Dia mencoba menangkis serangan pedang itu dengan tangan kosong. Dengan kekuatan yang tersisa, ia yakin mampu mengatasi musuh-musuhnya sebelum pimpinan mereka datang menyusul.

Namun, sebelum mata pedang tajam itu menembus kulitnya—

TRANGG!!!

Suara benturan logam yang menggetarkan menggema, diikuti dentuman keras yang mengguncang tanah. Pedang itu terpental jauh, dan udara di antara mereka bergetar oleh gelombang tekanan yang kuat.

Di tengah pertarungan itu, seorang pria berdiri kokoh dengan pedang terhunus, mata tajamnya menatap para kultivator satu per satu dengan tatapan penuh amarah.

“Cukup,” katanya dengan suara rendah yang menggema seperti gemuruh petir jauh di langit. “Dia manusia biasa. Kalian, sebagai kultivator, tidak seharusnya memperlakukan manusia biasa seperti ini.”

“Manusia biasa?!” salah satu Master Foundation mendesis penuh kebingungan. “Dia...”

“Aku tidak peduli,” potong Lynx dengan nada dingin, tajam, dan penuh ancaman.

Ketujuh Master Foundation terpana oleh kemarahan Lynx, sosok yang tiba-tiba muncul dan memarahi mereka. Lebih mengejutkan lagi, ternyata pria itu hanya berada di ranah Forging Qi tingkat dua.

Melihat kesempatan musuh-musuh yang mengejar teralihkan, Channa Satu bergerak cepat melarikan diri tanpa di sadari oleh Lynx yang fokus dengan orang-orang di hadapannya. Sebagai manusia super tanpa qi spiritual, Lynx tidak akan menduga jika pria yang dianggapnya manusia biasa adalah musuh yang diciptakan untuk menghancurkan dirinya kelak.

“Kurang ajar! Berani sekali kau, cuma Forging Qi tingkat dua, ikut campur urusan kami. Matilah!” seru salah satu Master Foundation dengan amarah yang membara. Mereka tidak mau membuang waktu karena banyak urusan lain yang harus diselesaikan. Ia melesat maju, pedangnya dikelilingi riak energi spiritual yang memelintir udara di sekelilingnya.

Lynx hanya mengangkat alisnya, senyum tipis terlukis di sudut bibirnya.

“Bagus. Ini kesempatan yang tepat untuk mencoba mainan baruku.”

“Berubah.”

ZRAAKKK!!!

Sabuk di pinggangnya menyala merah membara. Serat-serat nano bercahaya hijau zamrud merayap cepat di sisi kanan tubuhnya, membentuk lapisan baju tempur yang berdenyut hidup seperti otot. Sisi kiri tubuhnya terselimuti serat nano hitam pekat yang seolah menyerap semua cahaya di sekitarnya.

Dalam hitungan detik, helm lengkap terbentuk, matanya memancarkan cahaya merah pekat yang menembus kabut hutan. Garis-garis logam membelah tubuhnya secara simetris, memberi kesan dua kekuatan yang saling berimbang. Gelang bermotif formasi di pergelangan tangan dan kaki menyatu sempurna menghiasi pakaian tempur Lynx.

Pedang merah melesat menghantam tubuh Lynx, dan…

Trang!

Bukan tubuh Lynx yang terluka, melainkan pedang yang dialiri energi spiritual itu patah menjadi dua bagian.

Para Master Foundation tercengang menyaksikan kejadian luar biasa itu, terutama saat menatap langsung ke Lynx.

"Iblis... dia iblis..." teriak beberapa kultivator dengan suara gemetar penuh ketakutan. Tubuh mereka menggigil saat melihat penampilan Lynx yang menyeramkan. Beberapa melarikan diri terbang secepat mungkin, sementara yang lain jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi.

Sebagai kultivator keluarga Baihuan, ketika sekelompok orang menyerang keluarga mereka, sang pemimpin penyerang, seorang wanita tangguh, memanggil sosok raksasa mengerikan yang muncul dari bawah tanah. Makhluk raksasa bermata enam, bertaring tajam, dan bertanduk itu adalah pemandangan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya, seperti monster dari mimpi tergelap mereka. Wanita itu menyebut makhluk tersebut iblis. Meski ketua Monrest sudah menghancurkannya, bayangan makhluk itu masih sangat melekat kuat di ingatan mereka.

Ketika melihat penampilan Lynx dengan mata merah besar menyala di tengah hutan sunyi, ketakutan mendalam langsung menguasai mereka.

Lynx menoleh sedikit dengan ekspresi kecewa.

“Hah? Iblis? Kenapa pakaian tempur keren seperti ini malah disebut iblis?”

